Dealing in Distance adalah sebuah festival mini yang mempertemukan seniman Asia Tenggara dan seniman diaspora Asia Tenggara untuk mengkaji ulang dan mengartikulasikan kembali praktik-praktik diaspora dan migrasi—terutama dalam kaitannya dengan Jerman, melalui riset seni dan pertukaran budaya. Diinisiasi oleh empat Goethe-Institut di Indonesia, Filipina, dan Vietnam (Ho Chi Minh City dan Hanoi), program ini dirancang sebagai platform untuk praktik berbasis riset, yang memandang pengetahuan sebagai proses yang berkelanjutan ketimbang kesimpulan yang tetap, bergerak antara konteks lokal dan global.
Berangkat dari tujuan tersebut, program ini secara konseptual dirumuskan oleh kurator program, RED Nguyễn Hải Yến, yang bertolak dari gagasan bahwa identitas tidak tumbuh dari satu asal-usul tunggal, melainkan dari berbagai keterhubungan. Dipengaruhi oleh pemikiran Gilles Deleuze dan Félix Guattari, pendekatan ini diartikulasikan melalui gambaran rizoma, yang menyebar secara horizontal dan membentuk jejaring alih-alih berakar pada satu sumber tunggal. Berdialog dengan gagasan identitas relasional Édouard Glissant, diaspora dipahami sebagai suatu kondisi yang dibentuk oleh pergerakan, perjumpaan, serta tumpang tindih sejarah multikultural, pascakolonial, dan transnasional.
Sejalan dengan komitmen Goethe-Institut terhadap dialog dan mobilitas, festival ini melawat ke Bali untuk edisi ketiganya, yang diwujudkan melalui kolaborasi dengan dua kurator, Wayan Sumahardika dan Savitri Sastrawan. Sejumlah pameran, pertunjukan, lokakarya, diskusi, serta tur jalan kaki, menghadirkan berbagai perjumpaan yang kerap kali berlangsung tidak seimbang dan tak sepenuhnya terselesaikan— antara seniman diaspora Asia Tenggara kontemporer, seniman Indonesia, dan seniman Bali.
Bali menghadirkan lensa kritis untuk merefleksikan gagasan tentang rasa kepemilikan di luar definisi-definisi yang tetap, dibentuk oleh kerangka pandangan dunia yang jamak, sejarah migrasi dan pariwisata, serta negosiasi yang terus berlangsung antara tradisi dan pengalaman kontemporer. Dalam konteks ini, Bali menjadi situs aktif tempat lapisan-lapisan masa lampau dan masa kini yang beririsan; sehingga konsep “KAMU DARI MANA? (WHERE ARE YOU FROM?)”, menemukan resonansinya.
Alih-alih mencari identitas Bali yang “otentik”, Dealing in Distance mengundang para seniman dan khalayak untuk membaca Bali sebagai sebuah proses yang belum selesai—sebuah assemblage (jalinan) diaspora, sejarah, dan mobilitas terjalin tanpa jaminan kestabilan. Melintasi pengalaman kehilangan, kerinduan, perlawanan, dan ketahanan, “rumah” tidak pernah hadir sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sesuatu yang terus-menerus dibayangkan, dibongkar, dan dinegosiasikan ulang melalui keterbukaan dan ketidakpastian.
Dealing in Distance “KAMU DARI MANA? (WHERE ARE YOU FROM?)” menampilkan kontribusi artistik dari: Alvin Collantes | Amal Purnama | Bilawa Ade Respati | Bumi Bajra | [cap naga] | Don Rare Nadiana x Wulan Dewi Saraswati | Ferdiansyah Tajib | Gatari Surya Kusuma | Gede Yogi Sukawiadnyana x Ni Komang Ayu Anantha Putri x Manik Sukadana | Hà Thúy Hằng | Hiền Hoàng | Hoo Fan Chon | I Ngurah Suryawan | I Putu Oka Surya Pratama | Jules Leaño | Made Masak | Melati Suryodarmo | Nelden Djakababa Gericke x Putri Minangsari | Noutnapha Soydala | Nindya Nareswari | Nuturang | Phạm Minh Đức | Prinka Saraswati | Sarnt Utamachote, Plum, Gula Malacca | Vita Wulansari | Wayan Gde Yudane x Putu Septa | Woven Kolektif | Zelin Seah